Lalu Menangislah Ia

Lalu Menangislah Ia

Maghrib yang syahdu di masjid kampus kami
Ramai jamaah selepas kuliah bersilaturahmi 
Ketika tiba azan dikumandangkan
Dua rakaat salat sunat lalu ditunaikan

Delapan menit lewat kemudian iqamah
Majulah seorang bergamis hitam menjadi imam
Selepas Al-Fatihah rakaat pertama
Dibacanya Al-Baqarah ayat-ayat mulanya

"Alif Lam Mim
Kitab ini tak ada keraguan padanya
Petunjuk bagi mereka yang bertakwa

Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib,
melaksanakan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki
Yang kami berikan kepada mereka

dan mereka yang beriman kepada Alquran
Yang diturunkan kepadamu dan yang telah diturunkan sebelum engkau
dan mereka yakin akan adanya akhirat"

Ketika sampai di ayat lima
Mulai terbata-bata suaranya
"Merekalah  yang mendapat petunjuk dari Tuhannya,
dan mereka itulah orang-orang yang beruntung"
Lalu menangislah ia

Selepas salat khusyuk kami itu
Aku bertanya, dan berkatalah ia bahwa
Betapa diri begitu kotor diliputi kezaliman
Hingga takut pula tak termasuk orang beriman

Maghrib yang syahdu di masjid kampus kami
Imam membaca Al-Baqarah lima ayat pertama
Ciri-ciri orang beriman isinya
Lalu menangislah ia

---------

Puisi ini terinspirasi dari pengalaman penulis ketika salat maghrib di Masjid Nuruzzaman,
Kampus B Universitas Airlangga Surabaya pada tanggal 14 September 2017. Ketika imam melafalkan bacaan ayat keempat dan kelima dengan terbata (sambil menahan tangis),
mungkin banyak jamaah yang mengira bahwa ia lupa. Selepas salat saya sempat berbincang-bincang dengannya. Betapa terharunya ketika ia berkata, "apakah kita ini memang sudah benar-benar beriman?"

Ketika saya masih sangat sulit untuk menangis saat dibacakan ayat-ayat tentang hari akhir, siksaan, dan sebagainya. Ia dapat begitu dalamnya bermuhasabah dengan firman-Nya tentang apa saja.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permisi