Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Sebulan Sembilan Belas

Kekasih, siapalah hendak menyangka Bahwa ketika seluruh dunia terdiam tanpa kata Melangkah terseok menjalan siklusnya Ada yang nafasnya lebih lega Meski isi kantong semakin mendera Barangkali kita memang perlu rehat sesaat Bukan sekadar detoksifikasi, namun juga melihat lebih jernih dan luas Soal apa, siapa, mengapa, dan bagaimana hendak kita taruh konsentrasi Momentum bercermin diri, menemukan yang sejati Ia boleh jadi rel kereta listrik Bogor - Jakarta, Kekasih Yang aus dan sudah penat menyangga hiruk-pikuk manusia Juga mungkin saja mas-mas penjual mendoan di bawah jembatan Stasiun Tanjung Barat Yang diam-diam nge-fans dengan sang pemain biola di ujung tangga Di antara panik, heboh, cemas, tremor, tegang, sedih, muak, bosan tak terkira Jangan anggap aku dan mereka tak bersyukur, Kekasih Ini justru bentuk syukur kami paling tinggi dan khusyuk sekali Rela, berserah, damai, melepas segala hasrat bergantung kepada yang bukan Engkau Bukan rutinitas jam kerja di kantor...

Kata, Bahasa, dan Krida

Istirahatlah kata-kata, seperti milik Wiji Thukul. Aku tidak ingin kamu pergi Aku juga tidak ingin kamu pulang Yang aku ingin kamu ada Dalam sapaan pagi buta, atau ribuan bentuk ragam bahasa Yang aku boleh saja tidak pahami maknanya Tetaplah berkabar bahagia, jenaka, sedih pun tak apa Asal kau jangan henti Meski kridamu seakan berlaku sebaliknya Atau barangkali hanya aku yang terlalu banyak berangan Tentang kita dan semua harap yang terucapkan Aku tidak pergi ke mana-mana

Welcoming The New Year

Let's see.