Sebulan Sembilan Belas

Kekasih, siapalah hendak menyangka
Bahwa ketika seluruh dunia terdiam tanpa kata
Melangkah terseok menjalan siklusnya
Ada yang nafasnya lebih lega
Meski isi kantong semakin mendera

Barangkali kita memang perlu rehat sesaat
Bukan sekadar detoksifikasi, namun juga melihat lebih jernih dan luas
Soal apa, siapa, mengapa, dan bagaimana hendak kita taruh konsentrasi
Momentum bercermin diri, menemukan yang sejati

Ia boleh jadi rel kereta listrik Bogor - Jakarta, Kekasih
Yang aus dan sudah penat menyangga hiruk-pikuk manusia
Juga mungkin saja mas-mas penjual mendoan di bawah jembatan Stasiun Tanjung Barat
Yang diam-diam nge-fans dengan sang pemain biola di ujung tangga

Di antara panik, heboh, cemas, tremor, tegang, sedih, muak, bosan tak terkira
Jangan anggap aku dan mereka tak bersyukur, Kekasih
Ini justru bentuk syukur kami paling tinggi dan khusyuk sekali
Rela, berserah, damai, melepas segala hasrat bergantung kepada yang bukan Engkau

Bukan rutinitas jam kerja di kantor-kantor
Bukan jadwal ketat keberangkatan kendaraan umum di sudut-sudut kota
Bukan pula paradigma sempit bahwa belajar hanya bisa di dalam kelas dan sekolah
Juga benang-benang rindu semu yang dipintal oleh jumpa
Yang makin sering diinterupsi oleh gawai kami sendiri

Kini telah mencapai separuh dari yang nomor empat di kalender kami
Angka-angka yang membuat takut, data-data yang menambah getir
Sekarang tak banyak berarti lagi sebab izinkan kami menghela dan menjeda
Berserah diri dan percaya Engkau sebaik-sebaik pemberi takdir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Permisi