Berkelana di Surabaya dengan Sampah Botol Plastik Saja


Suroboyo Bus. pic from IG @suroboyobus

Tahun 2018 ini menjadi tahun keempat saya berada di Kota Surabaya. Sejak pertengahan 2014 lalu, saya mulai menjalani kehidupan sebagai seorang perantau ilmu di fakultas hukum salah satu PTN di Surabaya. Kota domisili saya, Bogor, berada sekitar 830 km jauhnya dari Surabaya. Keadaan kedua kota ini sangat berbeda! Bagi para pembaca yang sudah pernah berkunjung ke Bogor maupun Surabaya, tentu dapat merasakan bagaimana kontrasnya suasana Bogor yang adem, hijau (dengan pepohonan maupun angkotnya), dan sering diguyur hujan, sampai-sampai dijuluki “Kota Hujan”. Sedangkan, Kota Surabaya sebagai kota metropolitan yang tercatat sebagai kota kedua terbesar di Indonesia ini senantiasa menampakkan wajahnya yang riuh, ramai, lengkap dengan hawa panas yang membuat aktivitas masyarakatnya pun lebih dinamis. Julukan “Kota Pahlawan” yang disematkan pada kota ini cocok sekali mengingat bagaimana kayanya nilai kesejarahan yang melekat padanya.     
Ada suatu hal yang menjadi masalah bagi saya selama tinggal di Kota Surabaya. Bertahun-tahun hidup di Kota Bogor membuat saya terbiasa berpergian dengan menumpang angkutan kota (angkot), namun di Surabaya ini saya belum merasakan kenyamanan yang serupa ketika menggunakan transportasi publik yang tersedia. Syukurlah, mulai tahun 2018 ini, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perhubungan Kota Surabaya, meluncurkan moda transportasi umum “Suroboyo Bus”! Saya seketika antusias mendengar kabarnya.. Terlebih lagi, dikabarkan bahwa untuk dapat menumpang bus ini, kita hanya perlu mengumpulkan sampah botol plastik dalam keadaan bersih saja yang kemudian ditukarkan dengan tiket untuk berkeliling Surabaya dengan bus ini. Pikir saya, kok keren sekali terobosan ini.. Layaknya peribahasa “sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui”, dengan Suroboyo Bus ini saya kini punya alternatif cara mengalokasikan sampah botol-botol plastik yang saya konsumsi sebagai anak kos selain tergeletak menumpuk di kamar kos atau dibuang begitu saja. Yang lebih menyenangkan lagi, mereka (sampah botol plastik) kini tidak lagi tergeletak begitu saja, bahkan dapat mengajak saya berkelana di Kota Surabaya! :D
Setelah menyusun rencana sedemikian rupa, Alhamdulillah akhirnya predikat saya sebagai “warga Surabaya” terasa lebih afdol setelah dapat mencicipi Suroboyo Bus ini, hehehe. Para pembaca, yuk simak pengalaman saya!


Sampah botol plastik. 3 botol besar (1.5L) dapat ditukar dengan 1 stiker/tiket. Sedangkan untuk botol medium berukuran 600 ml sebanyak 5 botol. Kita juga dapat mengumpulkan gelas plastik (240 ml) sebanyak 10 buah untuk mendapatkan 1 stiker/tiket. Yuk kumpulkan yuk!

Beginilah penampakan sampah botol plastik yang telah saya kumpulkan selama beberapa pekan.. Banyak sekali, bukan? Pada hari Kamis, 6 September 2018, saya menukarkan botol-botol yang telah saya bersihkan ini ke petugas dari Suroboyo Bus di Halte Rajawali. Yup, halte ini adalah tempat penukaran sampah botol plastik selain Terminal Purabaya. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari laman media sosial Suroboyo Bus dan Dinas Perhubungan Kota Surabaya, kedua tempat ini buka setiap hari (Senin-Minggu) dari pukul 7 pagi hingga 4 sore. Berhubung hari itu saya sedang tidak ada kuliah, jadi sekitar pukul 9 pagi saya sudah berada di Halte Rajawali..

Boks sampah botol plastik di Halte Rajawali (plus separuh badan mas-mas crew-nya. Hahaha. Matur nuwun, mas e!

Tepat di belakang halte terdapat beberapa boks sampah botol plastik yang dikumpulkan oleh masyarakat yang hendak menukarkannya dengan tiket Suroboyo Bus. Banyak juga ya... Syukurlah kalau kesadaran orang-orang terhadap sampah, khususnya botol plastik ini meningkat dengan adanya Suroboyo Bus. :)

Berfoto dahulu karena nek jare arek-arek, no pic = hoax


Kartu setor sampah di depan kumpulan sampah yang disetorkan..

Tampak depan.. Keren juga, cocok buat menemani kartu-kartu lainnya di dompet :D

Tampak sebaliknya. Stiker!

11 stiker! Artinya saya dapat melakukan perjalanan dengan Suroboyo Bus sebanyak 11 kali dengan durasi perjalanan maksimal 2 jam. Oh ya, sebelum mendapatkan kartu setor sampah ini, data saya terlebih dahulu dicatat oleh crew Suroboyo Bus dengan menunjukkan KTP. Meski KTP saya Bogor, ternyata nggak masalah lho~



Kartu Setor Sampah disinari mentari pagi

Suasana di Halte Rajawali pagi itu tidak begitu ramai, namun tidak sepi pula. Terlihat beberapa anak sekolah, ibu-ibu yang hendak pergi belanja, mbak-mbak yang berangkat ke kampus atau kantor, juga bapak-bapak yang menemani anaknya menukarkan sampah botol plastik yang mereka sudah kumpulkan.. 

Halte Klampis, panasnya gak ketulungan.. Untung ada mbak-mbak itu pohon rindang, jadi rada adem deh

Jeng jeng jeng~ 
Hari yang dinanti-nanti pun tiba! Rabu, 26 September 2018. Tepat 20 hari setelah saya menukarkan sampah botol plastik dan mendapatkan kartu setor sampah, akhirnya saya berkesempatan mencoba naik Suroboyo Bus ini. Sekitar pukul 10 pagi, saya menunggu bus di halte Klampis. 

Selama menunggu di halte, saya memantau keberadaan Suroboyo Bus melalui aplikasi "GOBIS Suroboyo Bus" yang dapat diunduh gratis di Play Store. Agar dapat lebih cepat berada dalam bus di tengah cuaca Surabaya yang panas sekali hari itu, akhirnya saya menyeberang ke halte KONI 1. Sekitar 30 menit saya menunggu dan datanglah bus berwarna merah dengan kode SB06. 

Suasana di dalam bus SB06

Stikerku tinggal sepuluh.. Kupegang erat-erat

Ketika menaiki bus, crew Suroboyo Bus akan menyambut dan menandai Kartu Setor Sampah kita dengan membolongi salah satu stempelnya. Kemudian kita akan diberikan tiket dan diarahkan ke tempat duduk. 



yang tidak boleh dilakukan selama berada di dalam Suroboyo Bus..

Bus berhenti selama beberapa waktu di halte ITS. Saya pun berkesempatan memotret beberapa spot di dalam bus ini. 

Ternyata, kita dapat pula membawa langsung sampah botol plastik ke halte dan langsung naik busnya. Crew Suroboyo Bus akan memberikan kita 1 tiket perjalanan.

Kursi berwarna merah muda ini adalah bangku khusus perempuan, yang total jumlahnya sebanyak 12 bangku. Di dekatnya, ada pula bangku prioritas sebanyak 4 bangku yang dikhususkan untuk lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui. Bangku dengan jumlah paling banyak adalah bangku umum (untuk laki-laki dan perempuan) sebanyak 25 bangku. Kapasitas bus ini dapat menampung total 67 penumpang, dengan 26 penumpang berdiri jika bangku-bangku tersebut telah penuh.




Penampakan armada Suroboyo Bus ketika berhenti di halte ITS. Sayang sekali belum sempat memfoto bapak sopir dan mbak kernetnya. Hehe

Duduk di bangku umum. Masih sepi..

Ngomong-ngomong, tujuan perjalanan saya dengan Suroboyo Bus hari ini adalah ke JX International Expo untuk menghadiri sebuah acara pameran buku. Setelah menaiki bus SB06 (termasuk dalam rute UNESA-ITS) dari halte KONI 1, saya pun turun di Halte Santa Maria untuk meneruskan perjalanan dengan bus rute Jembatan Merah-Purabaya.


Tiket bus yang didapatkan dari crew Suroboyo Bus setelah menunjukkan Kartu Setor Sampah kita


Dedek-dedek yang di tengah itu mungkin terinspirasi sama mbak-mbak crew Suroboyo Bus ya. Hehe



Perjalanan saya dari Halte Santa Maria dengan bus SB05 berlangsung sekitar 20 menit saja untuk sampai ke Halte Wonocolo, tepat berada di depan gedung JX International.


Seusai mengunjungi pameran buku, malamnya saya pulang dengan kembali menaiki Suroboyo Bus. Kali ini, rutenya menuju Terminal Purabaya dan kemudian nanti rute Terminal Purabaya menuju Jembatan Merah.
Suasana bus di malam hari, lebih lengang.. 


Bus ini dilengkapi dengan CCTV dan juga pintu darurat

Gotcha! Dadah-dadah dulu rek ke CCTV. Haha


Penampakan Suroboyo Bus di malam hari 
Bus sempat berhenti di Terminal Purabaya untuk dibersihkan. Setelah menunggu sekitar 15 menit, perjalanan pun dimulai. Perjalanan ini menjadi yang terakhir di malam ini.
Tempat untuk penumpang yang menyandang disabilitas. Kebetulan pada saat itu tidak ada yang menempati sehingga ditaruh tempat pengumpulan sampah botol plastik

Sesaat sebelum bertolak dari Terminal Purabaya...
Ada hal unik yang terjadi sesaat sebelum bus bertolak dari Terminal Purabaya. Kondisi di dalam bus yang sangat sepi saya manfaatkan untuk memfoto bagian bangku umum bus, sampai tiba-tiba ada kericuhan yang terdengar di belakang saya dan terus mendekat.... Ternyata mereka adalah...

Halooo dek-adek, Suroboyo Bus... SIP!
Anak-anak ini! Hahaha. Bukan, mereka bukan penumpang Suroboyo Bus. Bapaknya yang membawa kakak-beradik ini masuk ke dalam bus untuk sekadar melihat-lihat :) Mungkin survei dulu untuk jalan-jalan besoknya yaa.. hehe. Terbukti deh, kalau memang Suroboyo Bus ini memiliki daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya. Bahkan, yang tidak hendak berpergian pun semangat sekali mau naik ke dalam bus :D

Sebelum turun di Halte Kaliasin. Momen perpisahan dengan Suroboyo Bus untuk hari ini. Tsah~

Total waktu yang saya habiskan untuk sampai ke JX dari daerah Manyar ialah 1 jam 15 menit. Sedangkan dari Terminal Purabaya ke Halte Kaliasin sekitar 40 menit saja. Bagi para pembaca yang tidak begitu terburu-buru, transportasi publik yang satu ini sangat dapat diandalkan. Ketimbang menumpang transportasi online yang kadang biayanya tidak terlalu murah. Dengan menukarkan sampah botol plastik saja, kita dapat menikmati perjalanan dengan Suroboyo Bus yang sangat nyaman. Cuaca Surabaya yang sangat panas siang itu tak terasa sama sekali di dalam bus yang dilengkapi AC. Pelayanan dari crew Suroboyo Bus yang ramah dan bersahabat juga membuat penumpang semakin enjoy selama menyusuri jalanan Surabaya yang tak jarang macet. Oh ya! Ditambah lagi dengan pengumuman dari speaker bus yang diucapkan dalam tiga bahasa lho! Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Boso Suroboyoan aseli! Haha. Benar-benar unik dan menampilkan wajah khas Kota Pahlawan ini.

Kehadiran Suroboyo Bus ini betul-betul menggembirakan bagi saya sebagai perantau, terlebih mahasiswa di kota ini. Transportasi umum berkualitas (dan berkuantitas) tinggi sudah sepatutnya ada untuk menunjang aktivitas masyarakatnya yang dinamis. Dinas Perhubungan Kota Surabaya telah dengan apik mempersembahkan moda transportasi yang ekonomis, nyaman, akomodatif, sekaligus ramah lingkungan ini. Terima kasih telah membuat saya dapat berkelana di Surabaya dengan sampah botol plastik saja. Semoga di waktu-waktu mendatang, inovasi ini dapat menginspirasi kota-kota lainnya di Indonesia bahkan seantero dunia. Bagi para pembaca sekalian, khususnya warga Surabaya. Ayo rek, kita naik Suroboyo Bus!

*Informasi terkini dan lebih lanjut terkait Suroboyo Bus (koridor/rute, fasilitas, waktu beroperasi, dan sebagainya) dapat dilihat di Instagram @suroboyobus & @dishubsurabaya.


Komentar

  1. That was so nice!! I hope Malaysia also have this kind of bus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you! I hope you guys can do the same thing there in Malaysia. 🙂

      Hapus
  2. Halo. Saya sebagai warga Surabaya sangat mengapresiasi tulisan ini. Gaya bahasanya santai dan mengalir, seolah-olah diajak berkeliling sungguhan. Semoga anda terus berbagi cerita dan inspirasi selagi mengembara di perantauan ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak! Senang sekali tulisan saya dibaca langsung oleh arek suroboyo. Maaf kalau masih banyak kekurangannya, ya! 🙏🏼
      Saya tunggu tulisan-tulisan Mbak.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Permisi