Seremban

Kerlip rindu disambut rintik hujan
Yang mengingatkanku pada suatu sore di Seremban
Tentang alang-alang yang tanpa bicara
Menuntun kita ke Tuanku Ja'far, Galeri Diraja

Kepak sayap burung mengitari tasik tengah kota
Menyambung hidup dari teguk pada yang dalam juga yang dangkal
Tahukah engkau, daun-daun kuning itu terheran di bawah sana
Menyadari keanggunanmu yang tak masuk akal

Aku bukan satu dari daun-daun kuning itu
Meski gugurnya barangkali serupa
Jika saja butiran air dari langit itu jatuh
Mengusir senyum tulusmu tanpa peduli apa

Karenanya, ambil dan genggamlah payung sederhana ini
Atau izinkan aku mendekatimu agar ia sanggup naungi kita
Menepi sejenak menghentikan jejak menuju galeri
Yang menghadiahi kita beberapa potret diri saja

Sebab itu, kenang-kenanglah ia
Negeri Sembilan yang kita singgahi mengalir saja
Seperti air di tasiknya juga semilir angin yang menerpa
Bila ada masa, semoga kelak 'kan lagi berjumpa

Maka itu, rindu-rinduilah ia
Seremban, kota nuansa negeri jiran
Negeri Sembilan punya Bandaraya
Juga sepotong cerita tentang kau yang kudamba




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Permisi