Keberanian
Lelaki itu menerjang hujan malam yang deras, selepas percakapan hangat bersama sahabatnya di pinggiran kota. Ia tahu, keputusan mesti segera diambil dan sesuatu yang besar sedang menunggunya di depan sana. Meski ragu, ia harus tetap percaya--atau setidaknya berpura-pura demikian--bahwa waktu itu pasti datang dan kini terasa semakin dekat dengannya.
Ia lupa (untuk tidak menyebutnya tidak tahu sama sekali), kapan sebenarnya ini semua bermula. Namun selayaknya seorang pendekar sejati, lelaki itu wajib mengerti ke mana arah langkahnya hendak ia jejakkan. Tidak berhati-hati sama dengan mati. Tergesa-gesa hanya akan berujung malapetaka.
Lelaki itu menerjang hujan yang deras, tapi kini waktu sudah dinihari. Ia lari kepada Sang Maha dan menceritakan semuanya. Bersama hujan yang mulai mereda dengan perlahan, semoga Dia berkenan memberikan sejumput keberanian.
Buitenzorg, malam sebelum kepergian yang lainnya
Ia lupa (untuk tidak menyebutnya tidak tahu sama sekali), kapan sebenarnya ini semua bermula. Namun selayaknya seorang pendekar sejati, lelaki itu wajib mengerti ke mana arah langkahnya hendak ia jejakkan. Tidak berhati-hati sama dengan mati. Tergesa-gesa hanya akan berujung malapetaka.
Lelaki itu menerjang hujan yang deras, tapi kini waktu sudah dinihari. Ia lari kepada Sang Maha dan menceritakan semuanya. Bersama hujan yang mulai mereda dengan perlahan, semoga Dia berkenan memberikan sejumput keberanian.
Buitenzorg, malam sebelum kepergian yang lainnya
Komentar
Posting Komentar