Senin Pagi di Garbarata
Suara koper yang menjerit diseret-seret
Bunyi tas yang terhempas tak sengaja
Aroma kerinduan yang masih lengket
Membuka Senin pagiku di garbarata
Wanita di seberang sana menutup teleponnya
Selepas dua tiga isak tangis bangga dihadiahkan
Kepada cucunya yang hendak belajar di perantauan
Doa terus tak pernah putus selalu disambungkan
Di sudut ruang tunggu bandara itu
Sesosok pria paruh baya duduk dengan raut gembira
Merah, terang benderang, ceria sekali setelannya
Mungkin ini hari ulang tahun pernikahannya
Atau liburan keluarga yang telah jauh hari diagendakan
Barangkali menghadiri wisuda anaknya yang tuntas pendidikan
Aku terdiam, sejenak larut dalam memori
Yang memang sengaja ku undang sendiri
Hadir dan menjadi cermin atas apa yang terjadi
Mengingat-ingat rute selanjutnya melangkahkan kaki
Dalam kebisuan pukul setengah sembilan pagi itu
Tampaknya ada sebuah doa yang terjawab
Seusai dipikirnya masak-masak (walaupun nyatanya terasa masih mentah)
Pena pun diangkat dan tintanya perlahan mengering
Jika katamu hidup itu layaknya bandar udara
Maka tempat favoritku pasti di garbarata
Ia jujur dan tulus sekali
Dioper ke sana dan kemari
Menjadi saksi atas ketenangan maupun ketergesa-gesaan
Anak manusia yang sedang bermain judi dengan pertemuan juga perpisahan
Dan di bawah langit Jakarta yang sedang terharu
Diam-diam ku rapal kembali doa itu
Pinta yang tak pernah kuingat-ingat
-Meminjam istilah Fahd Pahdepie- untuk tak membuatnya terperangkap dalam waktu
Kini langit ibukota mulai cerah
Aku berusaha mensyukuri Senin pagi yang tidak gerah
Sambil mengucap sampai jumpa kepada garbarata
10.45 WIB
di atas udara dalam perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur
Bunyi tas yang terhempas tak sengaja
Aroma kerinduan yang masih lengket
Membuka Senin pagiku di garbarata
Wanita di seberang sana menutup teleponnya
Selepas dua tiga isak tangis bangga dihadiahkan
Kepada cucunya yang hendak belajar di perantauan
Doa terus tak pernah putus selalu disambungkan
Di sudut ruang tunggu bandara itu
Sesosok pria paruh baya duduk dengan raut gembira
Merah, terang benderang, ceria sekali setelannya
Mungkin ini hari ulang tahun pernikahannya
Atau liburan keluarga yang telah jauh hari diagendakan
Barangkali menghadiri wisuda anaknya yang tuntas pendidikan
Aku terdiam, sejenak larut dalam memori
Yang memang sengaja ku undang sendiri
Hadir dan menjadi cermin atas apa yang terjadi
Mengingat-ingat rute selanjutnya melangkahkan kaki
Dalam kebisuan pukul setengah sembilan pagi itu
Tampaknya ada sebuah doa yang terjawab
Seusai dipikirnya masak-masak (walaupun nyatanya terasa masih mentah)
Pena pun diangkat dan tintanya perlahan mengering
Jika katamu hidup itu layaknya bandar udara
Maka tempat favoritku pasti di garbarata
Ia jujur dan tulus sekali
Dioper ke sana dan kemari
Menjadi saksi atas ketenangan maupun ketergesa-gesaan
Anak manusia yang sedang bermain judi dengan pertemuan juga perpisahan
Dan di bawah langit Jakarta yang sedang terharu
Diam-diam ku rapal kembali doa itu
Pinta yang tak pernah kuingat-ingat
-Meminjam istilah Fahd Pahdepie- untuk tak membuatnya terperangkap dalam waktu
Kini langit ibukota mulai cerah
Aku berusaha mensyukuri Senin pagi yang tidak gerah
Sambil mengucap sampai jumpa kepada garbarata
10.45 WIB
di atas udara dalam perjalanan dari Jakarta ke Kuala Lumpur
Komentar
Posting Komentar